Skip to content

Opsi Pilihan
Teks :
Kriteria Pencarian :
Teritori/Negara :
Kategori Produk/Produk :
Tipe Berita :
My Favorites:
 

Apakah para produsen mampu untuk mengejar kenaikan harga minyak ditengah kemungkinan adanya pengurangan produksi minyak?

  • 25/10/2016 (06:33)
Setelah mencapai kesepakatan awal pada pertemuan di Aljazair terkait pengurangan produksi minyak mentah untuk pertama kali selama delapan tahun terakhir ini, produsen minyak yang tergabung dalam OPEC dan non-OPEC seperti Rusia saat ini sedang melanjutkan pembicaraan lebih jauh terkait isu ini. Sebagai kelanjutan pertemuan antara kementerian perminyakan Russia dan Arab Saudi di Riyadh pada hari Minggu, Menteri minyak Russia Alexander Novak diberitakan mengatakan bahwa mereka mendiskusikan secara khusus isu pembatasan produksi minyak Rusia dan beberapa negara lainnya yang menyetujui kesepakatan tersebut.

Berdasarkan pada kesepakatan awal antara negara-negara tersebut pada 28 September di Aljazair, para negara kartel produksi minyak akan mengurangi produksi minyak sebesar 32.5-33.0 juta barel minyak per hari (bpd) dibandingkan dengan estimasi awal kelompok negara tersebut sebesar 33.24 juta bpd. Namun, Iran diperbolehkan untuk menambah produksi minyak. Iran saat ini sedang menahan pengurangan atau pemberhentian produksi minyak karena negara tersebut memiliki target untuk mencapai target sebelum memasuki periode pembatasan yaitu diatas 4 juta bpd. Iran saat ini mampu memproduksi 3.6 juta bpd selama beberapa tahun terakhir.

Nigeria dan Libya adalah anggota lainnya yang dibebaskan dari pembatasan produksi karena produksi mereka telah berhenti karena serangan militan selama beberapa tahun belakangan ini dan negara tersebut memasang target untuk menambah produksi mereka untuk menutupi kerugian selama ini. Lebih jauh lagi, kondisi ekonomi mereka tidak dalam kondisi baik.

Sebagai tambahan, Menteri perminyakan dari Irak Jabar Ali al-Luaibi, produsen minyak terbesar kedua di kelompok tersebut, saat ini telah mengatakan bahwa mereka juga harus dibebaskan dari rencana pengurangan produksi minyak ini, merujuk pada penurunan pangsa pasar mereka karena pereang yang terjadi akhir-akhir ini. Saat ini, produksi minyak Irak mencapai 4.77 juta bpd. Ia juga mengatakan bahwa mereka akan mengejar produksi minyak mencapai 9 juta bpd jika perang tidak terjadi.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Industri Arab Saudi Khalid Al-Falih mengatakan di Kongres Energi Dunia yang diadakan di Istanbul bahwa harga minyak mentah mungkin akan naik diatas $60/barel di akhir tahun ini jika para produsen minyak sepakat untuk membatasi produksi mereka.

Namun, melihat dari sisi lain terkait isu produksi, data terbaru menunjukan bahwa perhitungan pengeboran di AS terus bertambah dan produsen gas mulai beroperasi kembali setelah harga minyak mentah menyentuh batas $50/barel , yang mungkin akan membayangi target peningkatan harga minyak oleh negara-negara kartel.

Sejauh ini, Rusia dan Arab Saudi mulai terlihat sebagai pelopor pengurangan produksi minyak mereka, meskipun para pelaku industri mempertanyakan apakah kebijakan ini akan mampu untuk menstabilkan harga minyak di pasar global ditengah kenaikan aktivitas pengeboran oleh AS. Bahkan jika para negara kartel mencapai kesepakatan di Viena pada 30 November, para analis perminyakan tidak yakin mereka bisa mencapai target mereka terkait dengan kondisi harga.
Gratis Trial