Skip to content

Opsi Pilihan
Teks :
Kriteria Pencarian :
Teritori/Negara :
Kategori Produk/Produk :
Tipe Berita :
My Favorites:
 

Berbagai faktor mempengaruhi kondisi PP Asia Tenggara bulan November

  • 24/10/2016 (06:01)
Pasar impor PP Asia Tenggara menunjukan penguaan untuk beberapa pekan terakhir didorong oleh tren penguatan di China setelah periode liburan berakhir dan ditengah kenaikan pasar energi. Mendekati akhir bulan Oktober, para pelaku industri belum sepakat untuk prediksi di bulan November mengingat beberapa faktor yang berlawanan seperti perencanaan penutupan beberapa pabrik PP disatu sisi dan dimulainya pasar propylene Asia di sisi lainnya.

Terkait dengan jadwal operasional, sumber dari industri mengatakan bahwa Reliance Industries Limitied (RIL) dari India berencana untuk menutup plant PP mereka di Jamnagar, Gujarat pada pertengahan November untuk maintenance. Plant PP dengan kapasitas 2.03 juta ton/tahun diprediksi akan tutup selama 25 hari. Produksi PP diberitakan akan ditutup sehingga tingkat operasional akan jatuh menjadi separuh kapasitas ketika periode penutupan tersebut.

Para pelaku industri pasar impor PP di berbagai regional berpendapat akan ada penguatan untuk bulan November karena produsen dari India akan melakukan penutupan. Seorang trader mengatakan, “Meskipun plant para produsen akan tutup hanya untuk jangka waktu pendek, dampak terhadap harga impor PP ke Asia Tenggara sepertinya cukup signifikan pada November karena kapasitas yang cukup besar. Ditambah lagi, kenaikan harga energi akan tetap menjadi faktor pendorong lainnya yang menjaga pasar tetap berada pada sentimen penguatan.”

Untuk pasar lokal di regional tersebut, penutupan oleh beberapa produsen di bulan November juga akan mendorong harapan akan tren penguatan. Sebuah sumber dari Indonesia, Chandra Asri mengatakan bahwa mereka berencana untuk menahan produksi PP mereka karena akan melakukan perawatan dibulan November. Plant tersebut memiliki tiga basis produksi, masing-masing mampu memproduksi PP sebesar 160,000 ton/tahun yang dijadwalkan akan tetap tidak beroperasi selama dua pekan.

Seorang trader berbasis di Indonesia mengatakan bahwa mereka tiak memberikan penawaran untuk PP saat ini karena penutupan produsen domestik yang mana akan mendorong kenaikan harga di pasar untuk bulan November. Salah satu manufaktur karung di Indonesia mengatakan, “Kami mungkin menemukan kenaikan harga PP di bulan November mengingat ada rencana untuk penghentian produksi. Namun, kami tidak yakin bahwa harga akan berubah signidikan karena permintaan tidak terlalu baik.”

Beberapa pelaku industri di Thailand mengatakan bahwa secara umum produksi polyolefin akan berkurang karena SCG Chemical berencana untuk menutup pabrik cracker mereka di bulan November. “Kami berharap ada tren penguatan, terutama untuk PP di bulan depan,” ungkap penjual dari Thailand.

Sementara itu, Philippine Polypropylene Inc (PPI) diberitakan mengalami masalah dengan mesin pada plant PP mereka dengan kapasitas 160,000 ton/tahun. Para pelaku industri mengatakan bahwa produsen tersebut diharapkan dapat memulai kembali operasional produksi pada akhir bulan Oktober

Di sisi lain, ada faktor yang berlawanan yang mungkin akan menyeimbangkan dampak dari keterbatasan suplai untuk pasar PP regional. Berdasarkan ChemOrbis Production News, beberapa plant propylene dari Asia dijadwalkan untuk memulai kembali aktivitas produksi untuk periode Oktober-November. Sentimen untuk propylene telah bergeser ditengah suplai yang mencukupi di regional, dengan harga spot mencatat penurunan sepanjang pekan kemarin.

SK Global Chemical dari Korea Selatan berencana untuk menutup plant cracker terbesar kedua mereka dengan kapasitas produksi propylene sebesar 350,000 ton/tahun di Ulsan pada 26 Oktober. Unit cracker tersebut ditutup untuk perawatan sejak 17 September. Di Jepang, unit konversi olefins JX Nippon & Oil di Kawasaki dijadwalkan untuk memulai kembali operasional pada pertengahan Oktober. Untuk tersebut mampu memproduksi 140,000 ton/tahun untuk propylene. Produsen tersebut juga berencana untuk memulai kembali unit cracker catalytic terbesar kedua mereka dengan kapasitas 90.000 ton/tahun untuk propylene di pertengahan November.

Berlawanan dengan ekpektasi penguatan untuk PP bulan November, beberapa pelaku industri berpendapat bahwa penutupan unit PP juga akan mengurangi tekanan untuk pasar propylene karena akan ada konsumsi yang berkurang. Untuk kasus ini, permintaan untuk PP akan memainkan peran yang penting untuk menentukan tren kedepannya.
Gratis Trial