Skip to content

Opsi Pilihan
Teks :
Kriteria Pencarian :
Teritori/Negara :
Kategori Produk/Produk :
Tipe Berita :
My Favorites:
 

PE AS pelopori harga yang agresif secara global, menanggapi merosotnya energi

Oleh Merve Madakbaşı - mmadakbasi@chemorbis.com
  • 27/03/2020 (05:27)
Pasar PE utama di seluruh dunia sebagian besar tidak terpengaruh oleh jatuhnya harga energi dalam beberapa pekan sebelumnya. Alasan utama di balik reaksi ringan ini adalah gangguan parah pada logistik global. Ditambah dengan, langkah-langkah ketat terhadap pandemi COVID-19 menyebabkan lonjakan tarif pengiriman global, berlawanan drngan kejatuhan minyak mentah berjangka.

PE Amerika telah lesu hanya 2% sejak Jan hingga minggu ini

Pemasok PE AS telah melakukan awal yang kuat hingga 2020 karena kurangnya tekanan stok setelah menipiskan stok besar mereka pada kuartal keempat 2019.

Pedagang Amerika menerapkan kenaikan bertahap selama bulan-bulan pertama tahun ini. Ini terjadi sebelum sentimen bergeser pads H2 Februari di bawah bayang-bayang wabah virus yang pertama kali melanda Cina sebelum menyebar ke setidaknya lebih dari 170 negara di kemudian hari.

Bahkan, minyak mentah berjangkamencatat penurunan harian terbesar mereka dalam 30 tahun pada 9 Maret didorong oleh langkah Arab Saudi untuk meluncurkan perang harga terhadap Rusia.

Ini menyeret pasar komoditas sebagian besar turun sementara juga memicu penurunan tanpa henti dalam harga naphtha dan etilena di seluruh dunia sejak awal Maret. Spot harga naphta merosot ke level terendah di Asia dan Eropa sejak awal 2008, ketika ChemOrbis mulai mengumpulkan data rata-rata mingguan. Jatuhnya harga minyak membuat daya saing produsen PE Amerika dan Timur Tengah terhadap pesaing mereka yang berbasis nafta.

Tetap saja, produsen PE Amerika bereaksi terhadap merosotnya energi telah sedikit membuat peningkatan hingga saat ini. Sebagian besar didukung oleh terganggunya logistik. Di Asia Tenggara dan Turki, penawaran LLDPE dan HDPE film AS sedikit menurun totalnya 2% jika dibandingkan dengan awal tahun, sementara LDPE hampir tidak mencatat perubahan apa pun.

Penurunan LLDPE melampaui nilai lain di Asia Tenggara, HDPE film memimpin di Turki

Namun, harga PE Amerika mencatat penurunan yang lebih terlihat di pasar utama termasuk Asia Tenggara, Turki, Mesir dan Afrika minggu ini, menembus di bawah ambang batas CIF $800/ton di Turki dan Asia Tenggara. Penawaran ini memberikan keunggulan kompetitif di daerah-daerah tersebut di atas karena mereka membentuk ujung rendah dari keseluruhan pasar impor.

Seperti dapat dilihat dari Snapshot Produk ChemOrbis di bawah ini, harga PE Amerika turun $20-50/ton atau 2-6 persen di Asia Tenggara dengan penurunan terbesar terlihat untuk LLDPE c4 film pada minggu ini. Turki mencatat penurunan sebesar $45-65/ton atau 3-8% pada periode tersebut. Nilai HDPE, khususnya HDPE film (sekitar 8%) mencatatkan penurunan yang lebih besar untuk kargo AS.



* Klik kanan gambar dan buka di tab baru untuk melihat ukuran penuh.

Penawaran PE AS yang menarik membebani Mesir, Afrika

Demikian pula, harga HDPE dan LDPE film AS membebani pasar Mesir> karena mereka masing-masing berada di bawah $800/ton dan $900/ton, keduanya berdasarkan CIF Alexandria. Harga LDPE baru menunjuk ke level terendah 11 tahun, data dari ChemOrbis mengungkapkan.

Melihat Afrika Utara, pembeli di Lebanon mengkonfirmasi menerima penawaran LDPE, LLDPE dan HDPE film Amerika yang menarik, sementara harga HDPE film AS yang kompetitif juga dilaporkan di Aljazair.

Di Afrika Selatan, kargo LDPE film Amerika, LLDPE dan HDPE diperdagangkan dengan diskon lebih dari $100/ton untuk kargo impor Arab Saudi minggu ini.

Menyimpan pasokan di AS akan memengaruhi tren April

Pelaku pasar PE melihat penurunan harga tambahan dari sumber AS kemungkinan dalam beberapa hari mendatang. Pemasok akan berada di bawah tekanan akumulasi stok berdasarkan penambahan kapasitas besar-besaran di negara ini sejak 2017.

Ini juga didasarkan pada fakta bahwa permintaan telah lemah selama beberapa bulan terakhir di Asia dan Eropa. Di atas negara-negara Eropa utama, banyak negara termasuk Malaysia dan India saat ini sedang dilockdown yang telah memukul operasi hilir. Ditambah lagi, aktivitas di China masih belum pulih sebanyak itu meskipun ada pemulihan.
Gratis Trial