Skip to content

Opsi pilihan
Teks :
Kriteria Pencarian :
Teritori/Negara :
Kelompok Produk/Produk :
Tipe Berita :
My Favorites:
 

PE impor terus diperdagangkan dibawah harga ethylene di China

  • 23/05/2016 (04:54)
Pada pasar China, musim tenang untuk permintaan PE ditambah dengan pertumbuhan ekonomi negara yang lebih lambat dari yang telah diperkirakan serta dikombinasikan dengan kapasitas baru yang mulai bermunculan terus menerus telah menyebabkan rendahnya penawaran PE impor. Karena impor datang dari wilayah dengan biaya produksi yang lebih rendah, PE impor terus diperdagangkan dibawah harga spot ethylene Asia.

Tren ini dimulai pada pertengahan bulan Maret ketika harga spot ethylene Asia melampaui level pasar PE impor di China dan terus berlanjut sejak saat itu. Pada bulan Maret, China menunjukkan pelonjakan yang besar pada impor PE dari 657,346 ton di bulan Februari menjadi 1.02 juta ton di bulan Maret.Impor dari negara seperti Iran, Arab Saudi dan AS melonjak di bulan Maret jika dibandingkan dengan bulan Februari. HDPE Iran naik dari 90,909 ton di bulan Februari menjadi 156,787 ton di bulan Maret semnetara HDPE Saudi naik dari 62,501 ton menjadi 91,465 ton dan material asal AS dari 8,981 menjadi 17,667. Kenaikkan dari bulan ke bulan yang sama terjadi pula pada impor LLDPE sementara Qatar mengkontribusikan 29,398 ton LDPE pada bulan Maret jika dibandingkan dengan 11,887 ton di bulan Februari.



Sementara itu, indikator perekonomian China pada bulan April menunjukkan perlambatan dari tingkat pertumbuhan yang telah diperkirakan. Menurut National Bureau of Statistics (NBS) China, produksi industri dan penjualan retail negara bertumbuh dengan laju yang lebih lambat dari perkiraan pada bulan April, yang menumpulkan harapan akan stabilisasi ekonomi.Produksi industri meningkat 6% tahun ini, luput dari perkiraan para ekonom yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 6.5%. Pertumbuhan investasi aset tetap menurun menjadi 10.5% tahun ini dari bulan Januari ke April jika dibandingkan dengan kenaikkan sebesar 10.7% di periode Januari-Maret. Hal ini dikaitkan dengan melemahnya investasi pada sektor manufaktur dan infrastruktur. Biro tersebut juga melaporkan bahwa purchasing managers index (PMI) negara turun dengan bacaan 50.1 di bulan April dari bacaan 50.2 di bulan Maret. PMI April juga berada di bawah perkiraan pasar, yang memperkirakan adanya kenaikkan dengan bacaan 50.3.
gratis trial