Pasar PP dan PE Indonesia anjlok dari level tertinggi sepanjang masa akibat pemotongan bea masuk, penurunan lanjutan membayangi
Data ChemOrbis Price Index menunjukkan harga lokal PP melonjak 100% dari level sebelum perang hingga mencapai puncaknya, sementara harga PE naik lebih tinggi lagi, yaitu sebesar 112–113% selama periode yang sama, hingga mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, hanya dalam dua minggu, harga lokal PP telah turun 24% dari puncaknya, sementara harga PE turun 16–17%, menyoroti kecepatan dan besarnya penurunan pasar.
Tren lesu yang sedang berlangsung masih berpotensi berlanjut, karena kombinasi perubahan kebijakan, pemulihan pasokan domestik, dan lemahnya permintaan diperkirakan akan mengalahkan sentimen bullish sebelumnya yang disebabkan oleh gangguan pasokan bahan baku dan hambatan logistik. Meskipun volatilitas biaya yang terkait dengan ketegangan di Timur Tengah mungkin masih memberi dukungan sesekali, narasi pasar kini semakin diwarnai kekhawatiran soal keterjangkauan dan meningkatnya persaingan.
Kenaikan tajam diikuti koreksi turun yang cepat
Harga impor PP dan PE cenderung stabil hingga melemah sejak pertengahan April, turun sebesar $25-75/ton, dengan penurunan terdalam terjadi pada LLDPE film. Koreksi ini mencerminkan peralihan dari kondisi pasar yang ketat akibat pasokan menjadi situasi yang didorong oleh permintaan, di mana sentimen pembelian yang hati-hati dan perlawanan dari pembeli telah membatasi ruang penjual dalam menetapkan harga.
Namun, pasar domestik justru mengalami penurunan harga yang jauh lebih dramatis setelah kenaikan signifikan yang sebelumnya membawa harga PP dan PE ke wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Penurunan pasar yang masih berlangsung dipicu oleh penyesuaian harga ke bawah secara terus-menerus dari produsen utama lokal sejak akhir April.
Dalam waktu sedikit lebih dari satu minggu, produsen tersebut mengumumkan lima kali pemotongan harga dengan total IDR10.020.000/ton ($577/ton) untuk homo-PP raffia dan injeksi, IDR8.110.000/ton ($467/ton) untuk LLDPE film, dan IDR8.090.000/ton ($466/ton) untuk HDPE film. Jenis PE dan PP lainnya juga mencatat penurunan tajam sebesar IDR5.920.000-9.060.000/ton ($341-522/ton), menandakan sentimen bearish di dalam negeri.
Momentum bearish semakin menguat karena serangkaian faktor pendinginan
Terlepas dari penurunan yang terjadi baru-baru ini, pasar poliolefin Indonesia masih menghadapi serangkaian tekanan turun yang meningkat, menunjukkan bahwa koreksi saat ini belum sepenuhnya mencapai titik terendahnya.
Perubahan kebijakan memperbesar tekanan turun melalui impor
Pemerintah menghapus sementara bea masuk untuk resin plastik utama, termasuk PP, HDPE, dan LLDPE, selama enam bulan, yang diperkirakan akan mengubah dinamika pasar. Kebijakan ini bertujuan untuk menstabilkan pasokan dan menahan laju inflasi di sektor hilir seperti kemasan dan makanan, namun juga membuka peluang masuknya arus barang yang lebih banyak, khususnya dari negara non-ASEAN.
Data ChemOrbis Stats Wizard menunjukkan bahwa pada dua bulan pertama tahun 2026, lebih dari 57% impor PP dan 65% impor PE Indonesia berasal dari negara ASEAN yaitu Singapura, Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Volume ini sudah mendapatkan tarif 0% berdasarkan ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA), sehingga kebijakan baru akan berdampak terbatas pada arus intra-regional yang besar.
Namun, dampak signifikan justru akan terasa pada impor dari pemasok utama non-ASEAN seperti Saudi Arabia, UAE, AS, China, dan Korea Selatan, yang sebelumnya dikenakan tarif 5-15%. Penghapusan tarif ini diharapkan dapat mendorong arus impor dengan harga yang lebih bersaing dan pada akhirnya memberi tekanan penurunan tambahan pada harga domestik.
Chandra Asri bergegas mengakhiri force majeure, pasokan domestik pulih
Tekanan tambahan datang dari membaiknya kondisi pasokan domestik sebagai dampak dari berakhirnya force majeure oleh PT Chandra Asri, yang merupakan salah satu produsen pertama yang mengumumkan force majeure saat perang di Timur Tengah meletus. Keputusan produsen untuk kembali menyalurkan PP dan PE secara normal menandai titik balik setelah masa terganggu akibat hambatan pasokan bahan baku yang dipicu ketegangan geopolitik serta kemacetan logistik di Selat Hormuz.
Perusahaan berhasil memulihkan stabilitas operasional dengan diversifikasi sumber pasokan bahan baku, antara lain dengan meningkatkan pengadaan dari AS serta optimalisasi fasilitas yang berbasis di Singapura. Meskipun langkah ini membawa konsekuensi biaya lebih tinggi dan waktu pengiriman lebih lama, upaya tersebut memungkinkan produsen untuk menormalkan produksi dan membangun kembali keandalan pasokan. Prioritas alokasi etilena bagi produksi polimer hilir juga diharapkan akan mendukung ketersediaan PP dan PE domestik secara stabil.
Seiring membaiknya pasokan, kondisi ketat yang sebelumnya mendorong kenaikan harga mulai mereda. Kembalinya pasokan lokal yang konsisten, ditambah potensi kedatangan impor yang lebih banyak, dapat meningkatkan persaingan antarsesama penjual, sehingga memperkuat tren penurunan harga saat ini.
Kelemahan permintaan menambah tekanan
Dari sisi permintaan, kondisi pasar tetap lesu sehingga membatasi kapasitas pasar untuk menyerap tambahan pasokan. Pelaku pasar secara konsisten melaporkan masuknya pesanan yang lambat, dengan konverter kesulitan meneruskan kenaikan harga bahan baku ke konsumen akhir. Bahkan setelah penyesuaian harga terbaru, banyak pembeli masih menilai harga saat ini relatif tinggi dibanding keterjangkauan sektor hilir.
Para konverter mencatat bahwa meski ada pembelian oportunis setelah diskon, aktivitas pembelian tetap hati-hati dan cenderung dilakukan secara terbatas. Pedagang juga menyampaikan sentimen serupa, salah satunya menyebut, “Permintaan masih lesu, sehingga sulit merealisasikan transaksi meski ada penurunan harga. Pembeli melaporkan pemasukan pesanan rendah dan terus menekan harga, sementara volume pembelian tetap terbatas."
Stagnasi permintaan yang berlangsung, diiringi oleh meningkatnya persaingan impor akibat kebijakan baru dan kembali normalnya produksi domestik, mengindikasikan bahwa pasar PP dan PE Indonesia kemungkinan masih akan mengalami penyesuaian penurunan lanjutan sebelum menemukan titik dasarnya. Seorang pelaku pasar lokal menyampaikan, “Harga turun tajam karena tidak ada dukungan permintaan. Kami memperkirakan akan ada penurunan lebih lanjut, karena pemotongan bea masuk kemungkinan mendorong penawaran impor yang lebih menarik sehingga penjual lokal harus menurunkan harga agar tetap kompetitif.”
Lebih banyak berita plastik
Harga resin plastik (PP, LDPE, LLDPE ,HDPE, PVC, GPS; HIPS, PET, ABS), tren pasar polimer, dan lainnya- Plastipak luncurkan pakPET Single Pellet Solution dengan 30% kandungan daur ulang
- Harga minyak mentah melonjak karena premi perang kembali; akankah membalikkan keterpurukan polimer?
- UE terbitkan regulasi tarif, membuka lebar pintu untuk plastik AS bebas bea
- Penawaran Kompetitif dari Tiongkok dan Korea Selatan Seret Pasar PVC India Mendekati Level Pra-Perang
- Pasar Berjangka Dalian: PP, LLDPE, PVC, MEG – 25 Juni 2026
- Skor Premi Perang Asia Tenggara: PVC Hampir Normalisasi Sementara PP, PET, dan LDPE Masih Tetap Tinggi
- Statistik: China mengubah dinamika perdagangan PE saat ekspor April melonjak di tengah gangguan Timur Tengah
- Peneliti Jerman kembangkan sistem AI untuk melacak degradasi plastik
- Pembalikan Peran: Iran Mencari Polimer dari Türkiye di Tengah Gangguan Perang
- Harga PE AS Terkoreksi Setelah Mencapai Rekor Tertinggi; Koreksi Menyebar dari Asia ke Eropa dan Türkiye

