Penutupan Pasokan Timur Tengah: Apa Dampaknya bagi Pasar PP dan PE Global?
Di tengah konflik yang semakin memanas dan bertambahnya ketidakpastian pengiriman, pasar PP dan PE dari Asia hingga Eropa menghadapi risiko serius terjadinya gangguan pasokan karena Timur Tengah merupakan pemasok PP nomor 1 dan PE nomor 2 di dunia.
Tak perlu dikatakan lagi, harga minyak mentah dan harga gas alam melonjak tajam. Dari sisi produksi, QatarEnergy menghentikan produksi hilir, sementara Chandra Asri dari Indonesia menyatakan force majeure setelah pengiriman bahan baku dari Timur Tengah terganggu. Meskipun belum ada konfirmasi penutupan produksi secara luas di luar kasus-kasus tersebut, para penjual di seluruh kawasan tengah meninjau ulang strategi logistik dan penetapan harga.
“Situasinya sangat dinamis dan kami memantau dengan saksama. Saat ini kami sedang mengevaluasi opsi pengiriman alternatif sambil terus berkomunikasi dengan pelanggan terkait kemungkinan keterlambatan,” ujar salah satu produsen utama dari Saudi. Biaya pengiriman masih belum pasti, dengan CMA CGM, Maersk, dan Hapag-Lloyd menerapkan biaya tambahan darurat sebesar $100–150/ton. Banyak penjual dari Timur Tengah menangguhkan penawaran, dan kenaikan harga telah tercermin di pasar global.
Dalam konteks ini, pasar PP dan PE global bereaksi dengan kecepatan berbeda sesuai tingkat kerentanannya—namun mengarah pada tren yang sama.
Tiongkok: Dampak PP lebih pada sisi biaya dibanding sisi pasokan; Ketergantungan PE kepada impor dari Timur Tengah/Iran akan mengguncang pasar
Karena Tiongkok—konsumen PP dan PE terbesar di dunia—telah menambah kapasitas PP baru, ketergantungannya pada impor menyusut signifikan dalam beberapa tahun terakhir. 17% dari seluruh impor berasal dari Timur Tengah dengan UAE sebagai pemasok utama, menurut ChemOrbis Stats Wizard. Meskipun ketergantungan Tiongkok pada PP lebih kecil daripada PE, gangguan pasokan LPG dan propana dari kawasan ini akan meningkatkan biaya propilena dan mendorong harga PP di Tiongkok.
Sementara itu, pangsa Timur Tengah mencapai 34% dari seluruh impor PE pada 2025, angka yang jauh lebih besar dibanding PP, dengan UAE dan Saudi saling bersaing dan Qatar hanya mengambil porsi kecil sebesar 4%.
Yang terpenting, Iran—secara mandiri—merupakan pemasok PE penting bagi Tiongkok. Meski pangsanya turun cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir, Iran masih menyumbang 8% dari total impor PE Tiongkok, terutama untuk HDPE dan LDPE, dengan volume lebih dari 1 juta ton di 2025 menurut ChemOrbis Stats Wizard.
Jika Iran dan pemasok Arab digabungkan, kurang dari setengah pasokan PE impor Tiongkok yang secara langsung terdampak. Pasar PE domestik pun bereaksi cepat terhadap potensi gangguan dari pemasok utama impor tersebut dengan kenaikan harga yang mencolok. Harga LDPE film naik hingga CNY700–750/ton ($102–109/ton), sedangkan kenaikan di pasar PP domestik lebih moderat yakni CNY100-300/ton ($14-43/ton) pada awal pekan.
Kawasan Asia Tenggara: Pasar PE lebih rentan
Pembeli PE terbesar kedua di dunia adalah ASEAN, menurut ChemOrbis Stats Wizard, dengan hampir separuh dari seluruh impor PE berasal dari Timur Tengah. Arab Saudi adalah pemasok terbesar, diikuti oleh UAE dan Qatar dengan pangsa yang jauh lebih kecil.
Hilangnya pemasok krusial ini, Asia Tenggara pun mengalami kenaikan agresif hingga $50/ton untuk grade PE film, disertai dengan banyaknya penarikan penawaran.
Beberapa produsen Timur Tengah yang semula memberikan penawaran di awal pekan, dilaporkan segera menarik diri dari pasar, memperkuat kekhawatiran atas ketersediaan kargo. Pernyataan force majeure dari Chandra Asri semakin meningkatkan kekhawatiran terkait pasokan bahan baku dan hambatan logistik.
Untuk PP, tingkat ketergantungan kawasan ini pada Timur Tengah relatif lebih kecil karena pangsa Timur Tengah kurang dari 20% dari total impor PP, dengan Saudi tetap sebagai pemasok utama, sama seperti di Tiongkok. Walau absennya pasokan PP dari Timur Tengah tidak sebesar tekanan pada PE, kenaikan biaya propana akibat tidak ada pengiriman dari kawasan ini dipastikan akan mendorong harga PP lebih tinggi. Sejauh pekan ini, pasar impor di Asia Tenggara tetap waspada sementara pasar domestik di Indonesia, Filipina, dan Vietnam seluruhnya mengalami kenaikan.
India: Lebih dari 40-50% pasokan berasal dari Timur Tengah
Menurut ChemOrbis Stats Wizard, India memenuhi hampir setengah impor PP dari UAE (30%) dan Arab Saudi (17%) pada 2025, sementara ketergantungan pada Timur Tengah bahkan lebih besar pada PE yakni 52% dengan UAE (22%) dan Saudi (18%) sebagai pemegang pangsa terbesar, disusul Qatar dan Oman yang juga punya pangsa lebih dari 10%.
Oleh sebab itu, pemutusan pasokan dari Timur Tengah telah membuat harga domestik India meroket tajam. Pengiriman PP dari Timur Tengah ke India dilaporkan mengalami keterlambatan hingga 20 hari, sehingga para konverter beralih ke pasokan lokal.
Türkiye: Ketergantungan impor memperbesar paparan risiko
Türkiye adalah pembeli PP terbesar kedua di dunia, namun dalam hal pasokan dari Timur Tengah, Türkiye adalah pembeli utama pasokan PP kawasan tersebut. 38% dari seluruh impor PP berasal dari Saudi Arabia dan 5% dari UAE pada 2025 menurut ChemOrbis Stats Wizard.
Untuk PE, Timur Tengah berkontribusi sekitar 31% dari total impor tahun lalu sementara Iran juga memiliki pangsa sebesar 10%. Dengan lebih dari 40% basis pasokan terdekatnya kini terganggu, pasar Türkiye membuka minggu ini di tengah kebingungan dan keterlambatan penawaran impor baru untuk PP dan PE.
Petkim menaikkan harga LDPE sebesar $60/ton, sementara distributor lokal melaporkan kenaikan lebih dari $50/ton untuk homo-PP siap kirim. Pembeli memperkirakan ketersediaan spot akan terbatas, dengan volume kontrak yang diprioritaskan.
Pelaku pasar kini lebih fokus pada keamanan pasokan ketimbang negosiasi harga.
Eropa: Kejutan energi bertemu dengan kecemasan impor
Pasar poliolefin Eropa tengah menghadapi profil risiko berlapis. Uni Eropa-27 mengimpor sekitar 31% PP dan 24% PE dari Timur Tengah pada 2025—terutama dari Saudi Arabia—sebagaimana ditunjukkan oleh ChemOrbis Stats Wizard, menyoroti tingkat paparannya.
Harga gas alam melonjak hampir 74% hanya dalam beberapa hari, sementara Brent menembus $85/bbl selama perdagangan antar hari Selasa. Kontrak etilena dan propilena bulan Maret diselesaikan masing-masing naik €50/ton dan €35/ton. Narasi kini bergeser, dari permintaan lemah menuju penetapan harga berbasis keamanan pasokan.
Langkah-langkah logistik—termasuk biaya tambahan darurat konflik serta keputusan pengalihan jalur—memperpanjang waktu transit dan meningkatkan biaya pengiriman. Beberapa pemasok dari Timur Tengah dan Asia turut menangguhkan penawaran baru.
Produsen Eropa kini menargetkan kenaikan tiga digit, dengan sebagian mengumumkan kenaikan hingga €200/ton. Meski permintaan tetap rendah, pembeli mulai melakukan pembelian defensif sebagai langkah antisipasi terhadap potensi keterlambatan pengiriman.
Lebih banyak berita plastik
Harga resin plastik (PP, LDPE, LLDPE ,HDPE, PVC, GPS; HIPS, PET, ABS), tren pasar polimer, dan lainnya- Maret mengisyaratkan kenaikan lebih lanjut di pasar PP dan PE Eropa
- Pasar PVC India anjlok ke level terendah baru akibat pemangkasan produksi Taiwan pada Maret, pelaku pasar mencari sinyal titik terendah
- Pemulihan Q1 meningkatkan pasar PP dan PE Timur Tengah pada Februari; apakah akan berlanjut hingga Maret?
- Penutupan PE tanpa batas waktu di Asia Tenggara: Pasar dalam krisis karena permintaan yang buruk mengancam kelangsungan hidup
- Pasar PPH Turki berkinerja lebih baik dibandingkan kopolimer pada Februari
- Prioritas pemulihan margin lebih besar daripada ketidakseimbangan persediaan di pasar PVC Eropa
- Permintaan PVC Asia stagnan; perkiraan pemulihan bergeser ke akhir Q1
- Kondisi sulit industri petrokimia Korea Selatan menandakan hasil keuangan 2024 yang mengecewakan; akankah rencana pemerintah baru-baru ini membantu mengatasi badai?
- Pasar PP dan PE Tiongkok hadapi lonjakan pasokan pasca-liburan dan permintaan yang lesu
- Tarik menarik terjadi di Turki saat permintaan PVC menurun akibat kenaikan biaya

